|
PIAGAM MADINAH SEBAGAI PARADIGMA GERAKAN SOSIAL |
|
|
|
|
Oleh Dodo Widarda As-Samadani
(Penulis adalah Ketua PC LAKPESDAM-NU Sumedang)
Pada perkembangan awal Islam, terdapat dua periode penting dari perjuangan Rasulullah. Para ahli sejarah menuliskannya sebagai peride Makkah dan periode Madinah. Sejumlah bukti otentik menunjukkan bahwa Nabi dan umat Islam sebagai minoritas di Makkah, setelah 13 tahun pengangkatan beliau sebagai Rasul tidak mendapatkan simpati serta apresiasi memadai di jantung pusat kekuasaan politik serta ekonomi masyarakat Arab itu. Bahkan, belum memiliki kekuatan serta kesatuan politik untuk dapat berkuasa penuh dari sisi teritorial.
Dalam pandangan Nasution (1985), umat Islam menjadi komunitas yang bebas dan merdeka setelah pada tahun 622 hijrah ke Madinah, kota yang sebelumnya disebut Yatsrib. Kalau di Makkah mereka merupakan umat yang lemah dan tertindas, di Madinah mereka memiliki kedudukan yang lebih baik dan segera merupakan umat yang kuat dan dapat berdiri sendiri.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
TAK SEKEDAR ALOKASI ANGGARAN |
|
|
|
|
Oleh : Yenti Nurhidayat
Dalam hitungan waktu yang tidak terpaut jauh, sejumlah sekolah di Kota Bandung ambruk. Ironisnya, kejadian ini malah terjadi setelah sekolah tersebut mendapatkan sejumlah dana untuk melakukan perbaikan. Dan yang lebih menarik, pengelolaan anggaran yang disediakan untuk rehabilitasi bangunan sekolah tersebut dilakukan secara swakelola.
Kejadian demi kejadian ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar, ada apa sebenarnya dibalik praktek pengelolaan anggaran pendidikan kita? Apakah kesalahan tersebut terletak di pola managemen pengelolaan swakelola ataukah ada hal lain yang sebenarnya lebih mendasar. Penting bagi kita untuk mengkaji persoalan ini secara jernih untuk memastikan kejadian serupa tidak akan terulang mengingat hampir sebagian besar sarana prasarana belajar yang kita miliki sekarang berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|